Sabtu, November 01, 2008

Bersahabat dengan Ahli Kubur

Ada satu tehnik yang biasanya dilakukan untuk pendalaman peran. Ketika kita akan berperan sebagai pembantu rumah tangga, maka cobalah untuk menjadi babu di sebuah rumah. Ketika kita akan berperan sebagai orang gila, maka cobalah untuk bergaul selama beberapa hari di Rumah Sakit Jiwa. Dan seterusnya.

Itu juga yang coba aku lakukan ketika akan berperan sebagai Pak Dul dalam naskah Komidi Sebabak, pada Lomba Drama Modern PSR tahun 1996. Pak Dul adalah seorang penggali kubur. Setting panggung Komidi Sebabak adalah di sebuah kuburan. Sore itu, setelah latihan berakhir, Eka Sucahya sang sutradara tiba-tiba nyeletuk, "Wir, cobalah ntar malem kau pergi ke kuburan. Rasakan suasananya."

Lalu aku dan beberapa kawan menyusun rencana. Ditetapkan tiga kandidat kuburan yang akan dikunjungi. Kuburan di Hayam Wuruk, kuburan di Kenyeri, atau kuburan di jalan menuju Padang Galak dari WR Supratman. Kata temen-temen, kuburan yang terakhir ini yang paling angker. Tapi yang terpilih akhirnya adalah kuburan di Kenyeri, kuburan yang paling dekat dengan rumah Wahyu Dhyatmika, juga di Kenyeri, markas kita waktu itu.

Sekitar jam setengah dua belas malam, aku dan beberapa kawan mulai berjalan kaki dari rumah Wahyu menuju kuburan, yang hanya berjarak sekitar 30 meter. Kuburan Kenyeri ini melintang dari Jalan Kenyeri ke Jalan Ratna, sekitar 50-an meter. Dari Kenyeri, kita masih berjalan bersama melintasi kuburan menuju Ratna, sambil sesekali tertawa, dan aku belum merasakan apa-apa.

Sampai di ujung Ratna, adrenalinku mulai bergolak. Kini saatnya aku bertualang sendiri melintasi kuburan, sementara kawan-kawan menunggu di Ratna. Hhh... persahabatan dengan ahli kubur kumulai. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, semakin melangkah semakin terasa detak jantungku. Ingin rasanya berlari saja, agar sesegera mungkin sampai di ujung Kenyeri. Tapi demi persahabatan yang baik, kupaksakan diri untuk menjaga kestabilan langkah, tetap memberanikan diri. Kira-kira di pertengahan kuburan, kuhentikan langkah, kupandang berkeliling setiap gundukan tanah di sana satu persatu, mencoba menyapa para ahli kubur. Aku hanya tahan beberapa detik, lalu kulangkahkan kakiku cepat, lebih cepat, lebih cepat lagi, sampai akhirnya tiba juga di Kenyeri. Fiuh....

Masih beberapa menit sebelum kawan-kawan menyusul, yang bisa kulakukan hanya duduk di trotoar jalan, menunggu. Merasakan kembali perasaan yang terasa sebelumnya. Kendaraan yang sesekali lewat membunyikan klakson. Lalu lega sekali rasanya ketika terdengar sayup tawa kawan-kawan dari kejauhan. Berakhir sudah. Malam itu kita lanjutkan di Kumbasari, dengan aku masih membawa suasana kuburan.

Oleh-olehku dari pengembaraan di kuburan ini hanyalah sekeping medali seng, alias peringkat ke-4 pemeran pria terbaik, dan team Komidi Sebabak mempersembahkan emas untuk penampilan terbaik. Eka Sucahya juga berhak atas medali emas sebagai sutradara terbaik. Sungguh indah persahabatanku dengan para ahli kubur.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Bli Wira...aku jadi kangen masa2 latihan drama. hehehe
pengen banget rasanya naik panggung lagi nih...pasti seru sekali waktu berada di sema itu..aku juga pernah berada di tengah kuburan jam 12 malam untuk naruh sajen...yah mengerikan juga..dan seru juga...

Bli Wira kakaknya Kak Arya kan ya???
udah jadi dokter blum dia???
hehehehehe