Maaf kawan-kawan, berkat hasutan dari I Made "Doel" Suryawan, sejak 4 November 2008 ceritangin telah bermigrasi dari blogspot menuju wordpress, dengan alamat baru sebagai berikut: http://ceritangin.wordpress.com. Terima kasih selama ini telah mampir di sini, dan saya persilahkan untuk berkunjung ke rumah baru.
Salam.
Rabu, November 05, 2008
Sabtu, November 01, 2008
Bersahabat dengan Ahli Kubur
Ada satu tehnik yang biasanya dilakukan untuk pendalaman peran. Ketika kita akan berperan sebagai pembantu rumah tangga, maka cobalah untuk menjadi babu di sebuah rumah. Ketika kita akan berperan sebagai orang gila, maka cobalah untuk bergaul selama beberapa hari di Rumah Sakit Jiwa. Dan seterusnya.
Itu juga yang coba aku lakukan ketika akan berperan sebagai Pak Dul dalam naskah Komidi Sebabak, pada Lomba Drama Modern PSR tahun 1996. Pak Dul adalah seorang penggali kubur. Setting panggung Komidi Sebabak adalah di sebuah kuburan. Sore itu, setelah latihan berakhir, Eka Sucahya sang sutradara tiba-tiba nyeletuk, "Wir, cobalah ntar malem kau pergi ke kuburan. Rasakan suasananya."
Lalu aku dan beberapa kawan menyusun rencana. Ditetapkan tiga kandidat kuburan yang akan dikunjungi. Kuburan di Hayam Wuruk, kuburan di Kenyeri, atau kuburan di jalan menuju Padang Galak dari WR Supratman. Kata temen-temen, kuburan yang terakhir ini yang paling angker. Tapi yang terpilih akhirnya adalah kuburan di Kenyeri, kuburan yang paling dekat dengan rumah Wahyu Dhyatmika, juga di Kenyeri, markas kita waktu itu.
Sekitar jam setengah dua belas malam, aku dan beberapa kawan mulai berjalan kaki dari rumah Wahyu menuju kuburan, yang hanya berjarak sekitar 30 meter. Kuburan Kenyeri ini melintang dari Jalan Kenyeri ke Jalan Ratna, sekitar 50-an meter. Dari Kenyeri, kita masih berjalan bersama melintasi kuburan menuju Ratna, sambil sesekali tertawa, dan aku belum merasakan apa-apa.
Sampai di ujung Ratna, adrenalinku mulai bergolak. Kini saatnya aku bertualang sendiri melintasi kuburan, sementara kawan-kawan menunggu di Ratna. Hhh... persahabatan dengan ahli kubur kumulai. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, semakin melangkah semakin terasa detak jantungku. Ingin rasanya berlari saja, agar sesegera mungkin sampai di ujung Kenyeri. Tapi demi persahabatan yang baik, kupaksakan diri untuk menjaga kestabilan langkah, tetap memberanikan diri. Kira-kira di pertengahan kuburan, kuhentikan langkah, kupandang berkeliling setiap gundukan tanah di sana satu persatu, mencoba menyapa para ahli kubur. Aku hanya tahan beberapa detik, lalu kulangkahkan kakiku cepat, lebih cepat, lebih cepat lagi, sampai akhirnya tiba juga di Kenyeri. Fiuh....
Masih beberapa menit sebelum kawan-kawan menyusul, yang bisa kulakukan hanya duduk di trotoar jalan, menunggu. Merasakan kembali perasaan yang terasa sebelumnya. Kendaraan yang sesekali lewat membunyikan klakson. Lalu lega sekali rasanya ketika terdengar sayup tawa kawan-kawan dari kejauhan. Berakhir sudah. Malam itu kita lanjutkan di Kumbasari, dengan aku masih membawa suasana kuburan.
Oleh-olehku dari pengembaraan di kuburan ini hanyalah sekeping medali seng, alias peringkat ke-4 pemeran pria terbaik, dan team Komidi Sebabak mempersembahkan emas untuk penampilan terbaik. Eka Sucahya juga berhak atas medali emas sebagai sutradara terbaik. Sungguh indah persahabatanku dengan para ahli kubur.
Itu juga yang coba aku lakukan ketika akan berperan sebagai Pak Dul dalam naskah Komidi Sebabak, pada Lomba Drama Modern PSR tahun 1996. Pak Dul adalah seorang penggali kubur. Setting panggung Komidi Sebabak adalah di sebuah kuburan. Sore itu, setelah latihan berakhir, Eka Sucahya sang sutradara tiba-tiba nyeletuk, "Wir, cobalah ntar malem kau pergi ke kuburan. Rasakan suasananya."
Lalu aku dan beberapa kawan menyusun rencana. Ditetapkan tiga kandidat kuburan yang akan dikunjungi. Kuburan di Hayam Wuruk, kuburan di Kenyeri, atau kuburan di jalan menuju Padang Galak dari WR Supratman. Kata temen-temen, kuburan yang terakhir ini yang paling angker. Tapi yang terpilih akhirnya adalah kuburan di Kenyeri, kuburan yang paling dekat dengan rumah Wahyu Dhyatmika, juga di Kenyeri, markas kita waktu itu.
Sekitar jam setengah dua belas malam, aku dan beberapa kawan mulai berjalan kaki dari rumah Wahyu menuju kuburan, yang hanya berjarak sekitar 30 meter. Kuburan Kenyeri ini melintang dari Jalan Kenyeri ke Jalan Ratna, sekitar 50-an meter. Dari Kenyeri, kita masih berjalan bersama melintasi kuburan menuju Ratna, sambil sesekali tertawa, dan aku belum merasakan apa-apa.
Sampai di ujung Ratna, adrenalinku mulai bergolak. Kini saatnya aku bertualang sendiri melintasi kuburan, sementara kawan-kawan menunggu di Ratna. Hhh... persahabatan dengan ahli kubur kumulai. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, semakin melangkah semakin terasa detak jantungku. Ingin rasanya berlari saja, agar sesegera mungkin sampai di ujung Kenyeri. Tapi demi persahabatan yang baik, kupaksakan diri untuk menjaga kestabilan langkah, tetap memberanikan diri. Kira-kira di pertengahan kuburan, kuhentikan langkah, kupandang berkeliling setiap gundukan tanah di sana satu persatu, mencoba menyapa para ahli kubur. Aku hanya tahan beberapa detik, lalu kulangkahkan kakiku cepat, lebih cepat, lebih cepat lagi, sampai akhirnya tiba juga di Kenyeri. Fiuh....
Masih beberapa menit sebelum kawan-kawan menyusul, yang bisa kulakukan hanya duduk di trotoar jalan, menunggu. Merasakan kembali perasaan yang terasa sebelumnya. Kendaraan yang sesekali lewat membunyikan klakson. Lalu lega sekali rasanya ketika terdengar sayup tawa kawan-kawan dari kejauhan. Berakhir sudah. Malam itu kita lanjutkan di Kumbasari, dengan aku masih membawa suasana kuburan.
Oleh-olehku dari pengembaraan di kuburan ini hanyalah sekeping medali seng, alias peringkat ke-4 pemeran pria terbaik, dan team Komidi Sebabak mempersembahkan emas untuk penampilan terbaik. Eka Sucahya juga berhak atas medali emas sebagai sutradara terbaik. Sungguh indah persahabatanku dengan para ahli kubur.
Kamis, Oktober 30, 2008
Orang Asing, Rupert Brooke [2]
PSR tahun 1997. Lagi-lagi panitia menyelipkan naskah Orang Asing sebagai naskah pilihan dalam lomba drama modern. Tapi dengan pengalaman tahun sebelumnya, anak angin malah menyambutnya dengan bergairah. Anak angin akan kembali menghadirkan Orang Asing yang berbeda. Orang Asing yang sungguh asing.
Adhi Tiana, sang sutradara, semula ingin menghadirkan Orang Asing bernuansa ke-Bali-an. Mulai dari setting panggung berarsitektur Bali dengan bale dangin, bale daja, dan sebagainya; sampai pada karakter tiap pemain yang mengadopsi karakter-karakter khas orang Bali. Tapi setelah dipikirkan dari berbagai aspek, terutama masalah perlunya panggung yang begitu luas, tapi Wantilan Taman Budaya tidak memungkinkan untuk itu, dan setelah berdiskusi dengan Putu Satrya, maka ide itu akhirnya diurungkan.
Tapi tetap, bahwa kita harus membuat sesuatu yang baru. Akhirnya diputuskan, panggung kali ini akan menghadirkan suasana belakang rumah. Dapur diperlihatkan kepada penonton. Ciri khasnya adalah menampilkan sumur di sayap kanan panggung, lengkap dengan adegan menimba. Salah satu interaksi antara orang asing dengan si gadis terjadi di sekitar sumur ini. Untuk menghadirkan adegan menimba secara real, kita menempatkan ember besar penuh dengan air di dalam sumur buatan.
Setelah dihitung kebutuhan luas panggung dan ukuran Wantilan Taman Budaya, ternyata ukuran panggung kita masih lebih luas dari ukuran panggung di wantilan. Yang kita lakukan adalah menutupi bagian lubang di sekeliling panggung wantilan dengan membuat level dari triplek dan kayu. Tapi karena pengukuran yang tidak akurat, akhirnya masih ada bagian yang tidak tertutup dengan sempurna. Pada saat pementasan, hal ini menjadi cacat karena seorang pemain terperosok ke dalamnya, lalu terlihat kaget dan terkejut serta terlambat memberikan respon berupa improvisasi.
Hasil akhirnya, Orang Asing versi sumur hanya memperoleh juara III pementasan, tapi Adhi Tiana berhasil menyabet gelar penyutradaraan terbaik. Dan anak angin tetap berjaya, karena garapan Kisah Cinta Dan Lain-lain berhasil menjadi pementasan terbaik, Rahayu Ujianti sebagai pemeran wanita terbaik, ditambah Imam Wahyudi sebagai juara II penyutradaraan. Pelajaran berharga kali ini adalah seharusnya kita melakukan gladi bersih dengan panggung yang sebenarnya, untuk membiasakan pemain dengan situasi panggung asli, sehingga bisa meminimalisir cacat pementasan.
Adhi Tiana, sang sutradara, semula ingin menghadirkan Orang Asing bernuansa ke-Bali-an. Mulai dari setting panggung berarsitektur Bali dengan bale dangin, bale daja, dan sebagainya; sampai pada karakter tiap pemain yang mengadopsi karakter-karakter khas orang Bali. Tapi setelah dipikirkan dari berbagai aspek, terutama masalah perlunya panggung yang begitu luas, tapi Wantilan Taman Budaya tidak memungkinkan untuk itu, dan setelah berdiskusi dengan Putu Satrya, maka ide itu akhirnya diurungkan.
Tapi tetap, bahwa kita harus membuat sesuatu yang baru. Akhirnya diputuskan, panggung kali ini akan menghadirkan suasana belakang rumah. Dapur diperlihatkan kepada penonton. Ciri khasnya adalah menampilkan sumur di sayap kanan panggung, lengkap dengan adegan menimba. Salah satu interaksi antara orang asing dengan si gadis terjadi di sekitar sumur ini. Untuk menghadirkan adegan menimba secara real, kita menempatkan ember besar penuh dengan air di dalam sumur buatan.
Setelah dihitung kebutuhan luas panggung dan ukuran Wantilan Taman Budaya, ternyata ukuran panggung kita masih lebih luas dari ukuran panggung di wantilan. Yang kita lakukan adalah menutupi bagian lubang di sekeliling panggung wantilan dengan membuat level dari triplek dan kayu. Tapi karena pengukuran yang tidak akurat, akhirnya masih ada bagian yang tidak tertutup dengan sempurna. Pada saat pementasan, hal ini menjadi cacat karena seorang pemain terperosok ke dalamnya, lalu terlihat kaget dan terkejut serta terlambat memberikan respon berupa improvisasi.
Hasil akhirnya, Orang Asing versi sumur hanya memperoleh juara III pementasan, tapi Adhi Tiana berhasil menyabet gelar penyutradaraan terbaik. Dan anak angin tetap berjaya, karena garapan Kisah Cinta Dan Lain-lain berhasil menjadi pementasan terbaik, Rahayu Ujianti sebagai pemeran wanita terbaik, ditambah Imam Wahyudi sebagai juara II penyutradaraan. Pelajaran berharga kali ini adalah seharusnya kita melakukan gladi bersih dengan panggung yang sebenarnya, untuk membiasakan pemain dengan situasi panggung asli, sehingga bisa meminimalisir cacat pementasan.
Selasa, Oktober 28, 2008
Orang Asing, Rupert Brooke [1]
Orang Asing, naskah drama karya dari Rupert Brooke. Anak angin telah berkali-kali memainkan naskah ini dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kodya Denpasar. Bercerita tentang seorang lelaki muda kaya yang tersesat di sebuah hutan, beruntung mendapat tempat menginap di sebuah gubuk milik keluarga miskin yang terdiri dari ayah ibu dan seorang gadis. Tergiur dengan kekayaan si orang asing, keluarga miskin ini berencana untuk membunuhnya. Kepengecutan sang ayah akhirnya memaksa si gadis yang perkasa untuk melakukan pembunuhan itu. Belakangan terungkap, bahwa si orang asing ternyata adalah anak dari keluarga tersebut yang telah menghilang bertahun-tahun sebelumnya, yang ingin menghadirkan kejutan bagi keluarga itu dengan kemunculannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Si anak hilang telah dibunuh adik perempuannya sendiri, hanya menyisakan kepedihan, sebuah jam tangan mewah, dan kopor berisi banyak uang.
Setelah membaca naskahnya, setting panggung yang langsung terbayang adalah sebuah gubug dari bedeg, dipan reyot di tengah panggung sebagai ruang utama, pintu kamar tidur di dinding belakang tengah, pintu dapur dan pintu rumah di kanan kiri panggung, plus jendela. Jika ingin menampilkan siluet adegan pembunuhan, maka bedeg bisa digantikan dengan kain putih, atau dibuat jendela yang besar dekat pintu kamar menggunakan kain putih.
Itulah yang disiapkan oleh anak-anak angin menjelang PSR tahun 1996. Latihan intensif secara mandiri hanya dilakukan beberapa hari, seperti menjadi kutukan buat anak angin jaman itu bahwa segala sesuatunya mesti dipersiapkan dengan tergesa-gesa. Tapi semuanya mendadak berubah pada H-1, setelah kedatangan Putu Satrya pelatih kita waktu itu. Memang sudah menjadi kebiasaan, anak angin mempersiapkan pementasannya sendiri, lalu di saat-saat akhir mendatangkan pelatih untuk finishing supaya pementasan lebih halus.
Tapi kali ini bukan finishing yang kita dapatkan, malah perombakan total. Dan itu terjadi pada H-1. Setelah Putu Satrya melihat setting panggung buatan kita, lalu mulailah dia memberikan arahan. Ini dipindahkan ke sini, itu digeser ke sana. Set, set, set... panggung telah berubah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Putu Satrya memang luar biasa, penuh imajinasi. Kamar tidur yang biasanya ditempatkan di belakang, tersembunyi dari penonton, sekarang digeser, berada di depan ruang utama. Terlihat langsung oleh penonton. Ide utamanya adalah memperlihatkan adegan puncak, adegan pembunuhan, secara vulgar. Tidak sekedar menampilkan dalam bentuk siluet. Tapi benar-benar nyata. Anak angin sungguh takjub dengan ide revolusioner ini.
Para pemain hanya punya satu hari latihan dengan panggung baru. Mungkin ini yang mengakibatkan penampilan menjadi kurang maksimal. Orang Asing versi vulgar ini akhirnya hanya mendapatkan juara IV pementasan, plus juara III penyutradaraan. Tapi pada PSR saat itu anak angin tetap berjaya melalui garapan Komidi Sebabak, menyabet juara I pementasan dan penyutradaraan terbaik. Satu pelajaran berharga dari pementasan Orang Asing kali ini adalah bahwa kita harus selalu berusaha explore lebih dalam terhadap suatu naskah. Apalagi jika naskah itu sering kita mainkan, supaya pementasan yang kita hadirkan tidak menghadirkan kebosanan bagi penonton, pun bagi pemain.
Setelah membaca naskahnya, setting panggung yang langsung terbayang adalah sebuah gubug dari bedeg, dipan reyot di tengah panggung sebagai ruang utama, pintu kamar tidur di dinding belakang tengah, pintu dapur dan pintu rumah di kanan kiri panggung, plus jendela. Jika ingin menampilkan siluet adegan pembunuhan, maka bedeg bisa digantikan dengan kain putih, atau dibuat jendela yang besar dekat pintu kamar menggunakan kain putih.
Itulah yang disiapkan oleh anak-anak angin menjelang PSR tahun 1996. Latihan intensif secara mandiri hanya dilakukan beberapa hari, seperti menjadi kutukan buat anak angin jaman itu bahwa segala sesuatunya mesti dipersiapkan dengan tergesa-gesa. Tapi semuanya mendadak berubah pada H-1, setelah kedatangan Putu Satrya pelatih kita waktu itu. Memang sudah menjadi kebiasaan, anak angin mempersiapkan pementasannya sendiri, lalu di saat-saat akhir mendatangkan pelatih untuk finishing supaya pementasan lebih halus.
Tapi kali ini bukan finishing yang kita dapatkan, malah perombakan total. Dan itu terjadi pada H-1. Setelah Putu Satrya melihat setting panggung buatan kita, lalu mulailah dia memberikan arahan. Ini dipindahkan ke sini, itu digeser ke sana. Set, set, set... panggung telah berubah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Putu Satrya memang luar biasa, penuh imajinasi. Kamar tidur yang biasanya ditempatkan di belakang, tersembunyi dari penonton, sekarang digeser, berada di depan ruang utama. Terlihat langsung oleh penonton. Ide utamanya adalah memperlihatkan adegan puncak, adegan pembunuhan, secara vulgar. Tidak sekedar menampilkan dalam bentuk siluet. Tapi benar-benar nyata. Anak angin sungguh takjub dengan ide revolusioner ini.
Para pemain hanya punya satu hari latihan dengan panggung baru. Mungkin ini yang mengakibatkan penampilan menjadi kurang maksimal. Orang Asing versi vulgar ini akhirnya hanya mendapatkan juara IV pementasan, plus juara III penyutradaraan. Tapi pada PSR saat itu anak angin tetap berjaya melalui garapan Komidi Sebabak, menyabet juara I pementasan dan penyutradaraan terbaik. Satu pelajaran berharga dari pementasan Orang Asing kali ini adalah bahwa kita harus selalu berusaha explore lebih dalam terhadap suatu naskah. Apalagi jika naskah itu sering kita mainkan, supaya pementasan yang kita hadirkan tidak menghadirkan kebosanan bagi penonton, pun bagi pemain.
Sabtu, Oktober 25, 2008
Keep Writing
Wow! Setelah launching 9 hari, tapi baru dipublikasikan kemarin melalui salah satu friendster angin, blog ini ternyata telah menuai 1 buah komentar. Hanya 1 memang. Tapi 1 itu cukup membuat adrenalinku sangat sangat bergolak. Siapa ya si pengirim komentar? Komentarnya apa ya? Deg... deg... deg... duh, lambat banget koneksi di warnet ini....
Dari Budi Besi: Keep Writing!
Budi Besi. Anak angin angkatan 1994, tiga tahun lebih tua dari aku. Entah kenapa namanya menjadi Budi Besi. Nama aslinya sih I Wayan Budiartha. Dia sudah kukenal sejak aku berumur lima tahun, sejak aku pindah ke Denpasar dari Ulakan, kampungku di Karangasem sana, diajak Paman Bibi karena mereka belum juga punya buah cinta. Budi Besi, aku biasa memanggilnya Bli Budi, tetangga sebelah rumahku sejak saat itu. Main bersama waktu kecil sudah menjadi kebiasaan. Mulai perang-perangan, sampai tak til.
Budi Besi. Di jamannya, dialah tukang listriknya anak angin. Warisannya yang paling paling dan sangat sangat berharga bagi kami adalah sebuah dimmer sederhana. Pengatur lampu panggung. Di jamanku memang sempat rusak, tapi untung kami punya tukang listrik baru, Putu Barli. Diutak-atik sedikit, dimmer berharga itu bisa digunakan kembali. Masih sangat lama dimmer itu menemani anak angin, sampai pada akhirnya, kalau tidak salah, anak angin punya cukup uang untuk membeli dimmer pabrikan. Entah bagaimana sekarang nasib dimmer peninggalan Budi Besi, mungkin triplek-triplek pembangunnya sudah dijadikan kayu bakar pengusir dinginnya malam. Entahlah.
Keep Writing. So simple. Ya, komentar yang sangat sederhana, tapi ketika kurenung, sungguh mengandung makna yang begitu dalam. Keep writing. Dua kata ini akan selalu menjadi beban buatku mulai saat ini. Sejak awal, sejak kuputuskan untuk berkomitmen dengan blog ini, sebenarnya kalimat "Setiap Kamis, jam sembilan malam, lewat delapan menit, akan selalu ada kisah baru" sudah menindihkan beban berat di perutku. Sekarang tambahan lagi dengan "Keep Writing!" Buatku, artinya adalah bahwa seseorang di luar sana sedang mengamati gerak-gerikku, berharap aku tetap konsisten menulis. Ketika aku berhenti menulis, ketika aku melanggar komitmenku, saat itu juga kata-kata 'keep writing' akan menyayat setiap bagian jiwaku menjadi irisan-irisan sekecil atom.
Keep Writing. Dua kata ini akan selalu menjadi penyemangat yang sangat teramat luar biasa buatku dalam menjalankan komitmen ini. Thanks, Budi Besi. I'll do my best. Keep supporting. To all of the readers: Keep reading, and don't forget to leave a comment!
Dari Budi Besi: Keep Writing!
Budi Besi. Anak angin angkatan 1994, tiga tahun lebih tua dari aku. Entah kenapa namanya menjadi Budi Besi. Nama aslinya sih I Wayan Budiartha. Dia sudah kukenal sejak aku berumur lima tahun, sejak aku pindah ke Denpasar dari Ulakan, kampungku di Karangasem sana, diajak Paman Bibi karena mereka belum juga punya buah cinta. Budi Besi, aku biasa memanggilnya Bli Budi, tetangga sebelah rumahku sejak saat itu. Main bersama waktu kecil sudah menjadi kebiasaan. Mulai perang-perangan, sampai tak til.Budi Besi. Di jamannya, dialah tukang listriknya anak angin. Warisannya yang paling paling dan sangat sangat berharga bagi kami adalah sebuah dimmer sederhana. Pengatur lampu panggung. Di jamanku memang sempat rusak, tapi untung kami punya tukang listrik baru, Putu Barli. Diutak-atik sedikit, dimmer berharga itu bisa digunakan kembali. Masih sangat lama dimmer itu menemani anak angin, sampai pada akhirnya, kalau tidak salah, anak angin punya cukup uang untuk membeli dimmer pabrikan. Entah bagaimana sekarang nasib dimmer peninggalan Budi Besi, mungkin triplek-triplek pembangunnya sudah dijadikan kayu bakar pengusir dinginnya malam. Entahlah.
Keep Writing. So simple. Ya, komentar yang sangat sederhana, tapi ketika kurenung, sungguh mengandung makna yang begitu dalam. Keep writing. Dua kata ini akan selalu menjadi beban buatku mulai saat ini. Sejak awal, sejak kuputuskan untuk berkomitmen dengan blog ini, sebenarnya kalimat "Setiap Kamis, jam sembilan malam, lewat delapan menit, akan selalu ada kisah baru" sudah menindihkan beban berat di perutku. Sekarang tambahan lagi dengan "Keep Writing!" Buatku, artinya adalah bahwa seseorang di luar sana sedang mengamati gerak-gerikku, berharap aku tetap konsisten menulis. Ketika aku berhenti menulis, ketika aku melanggar komitmenku, saat itu juga kata-kata 'keep writing' akan menyayat setiap bagian jiwaku menjadi irisan-irisan sekecil atom.
Keep Writing. Dua kata ini akan selalu menjadi penyemangat yang sangat teramat luar biasa buatku dalam menjalankan komitmen ini. Thanks, Budi Besi. I'll do my best. Keep supporting. To all of the readers: Keep reading, and don't forget to leave a comment!
Kamis, Oktober 23, 2008
"Wira, akhirnya kamu nulis Blog..."
“Wira, akhirnya kamu punya blog.” Ya, akhirnya aku punya blog. Cita-cita sudah sejak lama, tapi baru hari ini bisa diwujudkan. Satu mimpi menjadi kenyataan, semoga mimpi-mimpi yang lain segera menyusul. Walaupun aku lupa bagaimana proses awal mimpi membuat sebuah blog, tapi aku harus berterima kasih kepada Putu Rahayu Ujianti dalam proyek ini. Yanti, begitu dia dipanggil, walaupun banyak kawan yang lebih suka memanggil Rahayu, tapi aku sendiri memanggilnya Ayu, pernah berkata bahwa menurut dia aku ini memiliki kecerdasan bahasa yang lumayan. Pilihan kataku, katanya, adalah pilihan kata yang tepat. Aku sendiri tidak menanyakan, apa yang menjadi acuannya dalam komentar tersebut. Mungkin dari caraku bercakap-cakap dengannya sejak pertemanan SMA. Mungkin juga dari tulisan-tulisanku yang sempat terbaca di mail-list Angin serta e-mail pribadiku kepadanya. Atau mungkin saja dari SMS-SMS gombalku kepadanya 2 tahun terakhir, kebiasaan yang rela tidak rela harus kutinggalkan sejak beberapa bulan terakhir. Apapun itu, yang jelas, pendapatnya mengenai kecerdasan bahasa ini telah memberikan stimulus yang luar biasa kepadaku untuk mencoba menulis, menulis, dan menulis.
Aku juga harus berterima kasih kepada kawan sejak SMP, Adhi Tiana. Ada suatu momen dimana dia melecut kembali mimpiku untuk sesegera mungkin membuat sebuah blog, ketika dia bertanya kepadaku bagaimana caranya membuat blog. Mungkin saat ini Adhi sudah menulis blognya sendiri, jauh mendahuluiku. Terima kasih juga buat Anton, Widi, dan Eka, kawan mengajar komputer waktu di Sekolah Harapan. Mereka bertiga telah membuat blognya sendiri jauh sebelum aku merealisasikan mimpi ini sekarang. Dan, kawan yang sebenarnya membuat aku berpikir untuk sesegera mungkin menulis blog adalah Dwitra J Ariana, biasa dipanggil Dadap. Pada satu acara reuni keluarga Angin beberapa hari yang lalu, dia sempat menunjukkan blognya (http://dadapsblog.blogspot.com) kepadaku. Ya, sudah saatnya Aku juga menulis blog.
Pada awalnya mimpiku adalah memiliki blog yang bisa memberikan inspirasi kepada setiap insan untuk bisa selalu berbuat lebih baik. Tapi aku sadar dengan kapasitasku, bahwa aku belum bisa mencapai hal itu saat-saat sekarang ini. Jadi, mimpi itu aku awali hanya dengan blog ini, blog yang sedianya hanya akan mengorek kembali ingatan masa laluku tentang hari-hari bersama keluarga Teater Angin Smansa Denpasar.
Komitmenku terhadap blog ini adalah memastikan bahwa setidaknya akan ada satu tulisan baru, setiap Kamis, jam sembilan malam, lewat delapan menit.
Salam.
Aku juga harus berterima kasih kepada kawan sejak SMP, Adhi Tiana. Ada suatu momen dimana dia melecut kembali mimpiku untuk sesegera mungkin membuat sebuah blog, ketika dia bertanya kepadaku bagaimana caranya membuat blog. Mungkin saat ini Adhi sudah menulis blognya sendiri, jauh mendahuluiku. Terima kasih juga buat Anton, Widi, dan Eka, kawan mengajar komputer waktu di Sekolah Harapan. Mereka bertiga telah membuat blognya sendiri jauh sebelum aku merealisasikan mimpi ini sekarang. Dan, kawan yang sebenarnya membuat aku berpikir untuk sesegera mungkin menulis blog adalah Dwitra J Ariana, biasa dipanggil Dadap. Pada satu acara reuni keluarga Angin beberapa hari yang lalu, dia sempat menunjukkan blognya (http://dadapsblog.blogspot.com) kepadaku. Ya, sudah saatnya Aku juga menulis blog.
Pada awalnya mimpiku adalah memiliki blog yang bisa memberikan inspirasi kepada setiap insan untuk bisa selalu berbuat lebih baik. Tapi aku sadar dengan kapasitasku, bahwa aku belum bisa mencapai hal itu saat-saat sekarang ini. Jadi, mimpi itu aku awali hanya dengan blog ini, blog yang sedianya hanya akan mengorek kembali ingatan masa laluku tentang hari-hari bersama keluarga Teater Angin Smansa Denpasar.
Komitmenku terhadap blog ini adalah memastikan bahwa setidaknya akan ada satu tulisan baru, setiap Kamis, jam sembilan malam, lewat delapan menit.
Salam.
Kamis, Oktober 16, 2008
Salam

Salam. Aku Wira, nama panjangnya bukan Wiiiiiiiiiraaaaaaaaa, tapi I Kadek Wira Santosa. Itu nama pemberian orang tuaku, nama resmi di akta kelahiran. Entah kenapa, di KTP atau SIM namaku terpangkas menjadi hanya Kadek Wira Santosa. Orang-orang Bali atau orang-orang yang tahu struktur nama Bali pasti dengan segera menerka kalau aku ini anak ke-2. Hey, aku ini anak ke-3, dari 4 bersaudara, yang semuanya juga diberikan nama Santosa. Tentang nama Wira, menurut Bapak Ibu, berasal dari perwira, karena aku lahir di bulan Agustus, yang identik dengan bulan proklamasi, bulan dimana pada tahun 1945 akhirnya Indonesia memerdekakan diri setelah berjuang menghadapi penjajahan selama 3,5 abad lebih dengan gagah perwira.
Waktu kecil, waktu aku mulai diajarkan menyebut nama sendiri, tapi belum bisa melafalkan Wira dengan benar, yang keluar dari mulutku hanya Wa, Wa, Wa, sambil menunjuk ke dada sendiri. Jadilah di lingkungan keluarga, aku bernama Dek Wa, kadang-kadang dipanjangin sedikit menjadi Dek Wah.
Lalu aku mendapat nama baru dari kawan-kawan SMA, tello, ya tello dengan t tidak kapital, bukan Tello dengan T yang kapital. Kata mereka, struktur pipiku bisa disejajarkan dengan struktur pipi milik Kura-kura Ninja. Donatello, Leonardo, Michaelangelo, Raphael, yang dipilihkan buatku adalah Donatello, singkatnya tello. Batinku, kok ya bukan Michaelangelo saja, jadi bisa dipanggil Michael, terdengar lebih keren.
What is in the name, kata Shakespeare. Cukup sudah tentang nama, kataku. Semoga tiga paragraf di atas (plus photo hasil editan Adobe Photoshop) bisa memberi sedikit gambaran, bahwa blog ini adalah blog yang ditulis oleh Wira yang mungkin sudah Anda kenal sebelumnya. Oh, Wira yang itu. Iya, Wira yang itu, bukan Wira yang ini. Bagi yang belum mengenal, salam kenal aku persembahkan melalui tulisan-tulisan berikut dan seterusnya.
Salam.
Langganan:
Postingan (Atom)
