PSR tahun 1997. Lagi-lagi panitia menyelipkan naskah Orang Asing sebagai naskah pilihan dalam lomba drama modern. Tapi dengan pengalaman tahun sebelumnya, anak angin malah menyambutnya dengan bergairah. Anak angin akan kembali menghadirkan Orang Asing yang berbeda. Orang Asing yang sungguh asing.
Adhi Tiana, sang sutradara, semula ingin menghadirkan Orang Asing bernuansa ke-Bali-an. Mulai dari setting panggung berarsitektur Bali dengan bale dangin, bale daja, dan sebagainya; sampai pada karakter tiap pemain yang mengadopsi karakter-karakter khas orang Bali. Tapi setelah dipikirkan dari berbagai aspek, terutama masalah perlunya panggung yang begitu luas, tapi Wantilan Taman Budaya tidak memungkinkan untuk itu, dan setelah berdiskusi dengan Putu Satrya, maka ide itu akhirnya diurungkan.
Tapi tetap, bahwa kita harus membuat sesuatu yang baru. Akhirnya diputuskan, panggung kali ini akan menghadirkan suasana belakang rumah. Dapur diperlihatkan kepada penonton. Ciri khasnya adalah menampilkan sumur di sayap kanan panggung, lengkap dengan adegan menimba. Salah satu interaksi antara orang asing dengan si gadis terjadi di sekitar sumur ini. Untuk menghadirkan adegan menimba secara real, kita menempatkan ember besar penuh dengan air di dalam sumur buatan.
Setelah dihitung kebutuhan luas panggung dan ukuran Wantilan Taman Budaya, ternyata ukuran panggung kita masih lebih luas dari ukuran panggung di wantilan. Yang kita lakukan adalah menutupi bagian lubang di sekeliling panggung wantilan dengan membuat level dari triplek dan kayu. Tapi karena pengukuran yang tidak akurat, akhirnya masih ada bagian yang tidak tertutup dengan sempurna. Pada saat pementasan, hal ini menjadi cacat karena seorang pemain terperosok ke dalamnya, lalu terlihat kaget dan terkejut serta terlambat memberikan respon berupa improvisasi.
Hasil akhirnya, Orang Asing versi sumur hanya memperoleh juara III pementasan, tapi Adhi Tiana berhasil menyabet gelar penyutradaraan terbaik. Dan anak angin tetap berjaya, karena garapan Kisah Cinta Dan Lain-lain berhasil menjadi pementasan terbaik, Rahayu Ujianti sebagai pemeran wanita terbaik, ditambah Imam Wahyudi sebagai juara II penyutradaraan. Pelajaran berharga kali ini adalah seharusnya kita melakukan gladi bersih dengan panggung yang sebenarnya, untuk membiasakan pemain dengan situasi panggung asli, sehingga bisa meminimalisir cacat pementasan.
Kamis, Oktober 30, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Hai Wir,
Terima kasih sudah menjadi sulur angin Wir, yang menarikku kembali ke Nostalgia terindah masa SMA. Aku rindu sekali dengan komunitas ini. 10 tahun sudah. Satu dekade hidup dengan menutup sisi jiwa yang satu ini.
Salam kenal untuk semua
Posting Komentar